Selasa, 20 Mei 2014

Ketika Jilbab hanya Sebagai Asesoris



oleh Melati pada 21 Mei 2011 jam 23:41
بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

... Ketika Jilbab hanya Sebagai Asesoris ...
Seorang perempuan muda berjilbab mini tengah mengambil bolpoin yang jatuh di lantai. Secara mengejutkan, pakaian yang tak kalah mini dengan jilbabnya, terangkat ke atas hingga memperlihatkan bagian tubuhnya.
Na’udzubillahi min dzalik, jika contoh yang dilukiskan itu sudah menjadi gambar...an dari muslimah-muslimah sekarang ini. Niatnya memang baik, menutup aurat yang sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslimah. Hanya saja, seringkali aurat yang ditutup tidak sesuai dengan apa yang seharusnya dituntunkan oleh Islam.
Lihatlah, betapa banyak perempuan-perempuan yang mengaku beragama Islam, mengenakan jilbab, tetapi masih mempertontonkan bentuk lekuk tubuhnya. Salah bergerak sedikit, bagian tubuhnya bisa kelihatan. Mininya jilbab yang dikenakan seringkali malah membuat rambutnya yang panjang menjuntai keluar.
Kasus lain, ketika para ibu yang menghadiri walimahan mengenakan jilbab, namun lengan kebayanya masih transparan. Usai walimahan, biasanya mereka menanggalkan jilbab seolah-olah jilbab hanyalah sebagai asesoris untuk walimahan saja.
Sama halnya dengan para siswi atau mahasiswi yang sekolah atau kuliah di sekolah atau universitas Islam yang mewajibkan untuk mengenakan jilbab, mau tidak mau mereka harus mengenakan jilbab ketika berada di lingkungan sekolah atau kampus. Di luar itu, mereka dengan mudahnya tanpa beban membiarkan rambutnya tidak tertutup oleh jilbab.
Bahkan, ada juga sebagian mengenakan jilbab hanya karena merasa lebih cantik jika berjilbab. Rambutnya yang kurang bagus untuk diperlihatkan, terpaksa harus ditutupi. Jilbab modis yang dikenakan bisa mengalihkan penampilannya, hingga ia terlihat lebih mempesona dengan berjilbab. 
Sesempit inikah makna jilbab bagi para wanita muslimah? Amat sangat disayangkan jika jilbab hanya diartikan sebagai asesoris semata.

Kewajiban Berjilbab...

Perintah berjilbab terdapat dalam QS An Nuur 31, “Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya…” 
Dari ayat tersebut nampak jelas, bahwa setiap wanita muslimah, dalam hal ini adalah semua wanita yang mengimani agama Islam, diwajibkan mengenakan jilbab. Konteks jilbab disini tidak hanya menutup rambutnya saja, melainkan menjulurkan jilbab hingga ke bagian dadanya. Sudah pasti, jilbab yang dikenakan haruslah lebar, tidak mini dan bisa menutupi bagian-bagian tubuh yang harus dijaga. 
Pakaian yang dikenakan pun harus lapang, tidak menonjolkan bagian tubuhnya. Sebagaimana halnya firman Allah dalam QS Al Ahzab 59, “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Arti ‘jilbab’ dalam ayat tersebut ialah jilbab yang sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala hingga dada. Ayat tersebut juga semakin memperjelas bahwa jilbab tak hanya digunakan untuk menutupi kepala saja (dalam artian rambut) namun juga digunakan untuk menutupi bagian tubuhnya, termasuk dada. Jika mengenakan jilbab yang mini dimana umumnya jilbab diikatkan ke leher, ini berarti tidak sesuai dengan apa yang dimaksudkan dalam ayat ini.
 Lalu bagaimana dengan jilbab modis? Umumnya, jilbab modis kebanyakan tidak sesuai dengan apa yang dituntunkan dalam Al-Qur’an. Seringkali karena alasan modis, jilbab yang dikenakan justru meninggalkan unsur syar’i-nya. Jilbab dibuat sedemikian rupa sehingga bagian dada yang seharusnya tertutupi, justru malah kelihatan. 
Bukan berarti Islam melarang para wanita muslimah untuk tampil modis. Tak ada salahnya modis, asalkan jilbab atau pakaian yang dikenakan sesuai dengan yang telah diperintahkan oleh Allah dalam QS An Nuur 31 dan QS Al Ahzab 59.

Batasan-batasan ... 
Berjilbab tak hanya dilakukan ketika kita berada di luar rumah saja. Meskipun di dalam rumah, jika disana terdapat orang-orang yang bukan mahrom kita, maka wanita muslimah harus tetap mengenakan jilbabnya.


Soal batasan-batasan siapa saja yang memperbolehkan wanita muslimah membuka jilbabnya dijelaskan oleh Allah dalam QS An Nuur 31, “…Dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”


Sebagai Cermin Menjaga Hati ....
Terkadang orang berseloroh, “Berjilbab, kok gitu sih?” Kebanyakan masyarakat awam selalu berpikir bahwa wanita yang mengenakan jilbab diartikan sebagai orang yang kadar imannya kuat. Tidak heran jika dalam kenyataannya masih banyak didapati wanita-wanita berjilbab yang masih melakukan hal-hal yang melanggar agama, termasuk berzina (nau’dzubillah).
Fakta yang banyak terjadi di masa sekarang ini, banyak wanita yang sudah mengenakan jilbab, namun akhlaqnya tak berbeda jauh dengan mereka yang belum mengenakan jilbab, bahkan lebih parah dari mereka. Berjilbab, tapi masih hobi pacaran, berdua-duaan dengan sang kekasih entah di tempat yang sepi atau ramai. Bahkan, sudah bukan hal yang tabu lagi jika mereka saling berciuman di tempat umum. Astaghfirullah.
Pemandangan yang membuat kita tersayat ketika kita mendapati wanita-wanita berjilbab, dengan tanpa bebannya membonceng di atas sepeda motor yang ditunggangi oleh laki-laki yang bukan mahromnya. Jarak mereka begitu dekat, bahkan terlalu mepet dengan tubuh laki-laki itu. Padahal, ia sudah mengenakan jilbab. 
Inilah yang membuat sebagian besar wanita-wanita yang beragama Islam enggan mengenakan jilbab. Mereka merasa belum pantas untuk menjilbabi hatinya. Mereka takut, jika mereka berjilbab nanti, mereka tidak bisa menjaga jilbabnya. Mereka lebih berpikir untuk tidak mengenakan jilbab karena takut tidak bisa menjaga akhlaqnya.
Padahal menutup aurat itu hukumnya adalah wajib bagi setiap wanita yang beriman. Siap atau tidak siap, setiap wanita muslimah diharuskan menutup auratnya. Jika merasa belum pantas menjilbabi hati, justru dengan jilbablah, kita bisa menjadikannya sebagai cermin untuk menata diri.

Karena jilbab merupakan identitas kita sebagai seorang muslimah, sebagai hamba-Nya yang taat, tentu kita akan selalu menjaga jilbab, jangan sampai jilbab yang kita kenakan justru malah menimbulkan fitnah. Nantinya, jilbab ini akan membawa kita pada perubahan sikap, tingkah laku serta perbuatan kita sehari-hari ke jalan yang diridloi-Nya.
Yah, jilbab sebagai alat untuk menjaga hati, bukan menjaga hati terlebih dulu, kemudian baru mengenakan jilbab. Karena menutup aurat hukumnya adalah wajib, maka dengan mengenakan jilbab sekaligus menjilbabi hati adalah hal yang harus kita lakukan sebagai seorang muslimah.

Tunggu apa lagi? Jangan ragu-ragu untuk mengenakan jilbab. Jadikan jilbab sebagai cermin menjaga hati dan tidak menjadikannya sebagai asesoris belaka. Keep istiqomah!!! (ntz)

Filosofi Bola Basket "Setelah Kesulitan Ada Kemudahan. Setelah Ada Masalah Ada Hadiah"


Assalamu’alaikum …
Ohaiyou… saya hadir kembali untuk mengisi blog ini :D hahaa setelah sekian lama menghilang dari permukaan.  Maaf ya udah lama banget ga nge-blog. Entah kayaknya kalo mau nulis tuh males aja, padahal kuota penuh hahaa ._.v
Kali ini saya mau nepatin janji buat nulis tentang filosofi bola basket dari ka Pewski waktu acara keputrian kemarin :D *udahlamagila, mudah-mudahan ga basi*
Mulai dari mana ya? Langsung aja deh ya.
Oke, jadi saat acara keputrian akbar di sekolahku atau lebih terkenal dengan KAFFAH beberapa bulan lalu,  kami panitia mengundang ka Meyda Sefira (artis muslimah cantik yang baru-baru ini menikah loh, hihi) dan juga ka Febrianti Almeera yang terkenal dengan @pewski. Acara keputrian kemarin yang berlangsung sangat seru temanya adalah “Muslimah Agent Who Will Change The World”. Pembicara pertama adalah ka Meyda yang sudah dijelaskan pada postingan sebelum ini. Dan di postingan sebelumnya saya juga sudah mengenalkan ka Pewski dan sebagian materi yang diberikannya J. Janjinya adalah saya akan menulis filosofi bola basket dari ke pewski dan cerita saat mewawancarai kedua wanita super itu.
Saat menjelang azan zuhur, ka Pewski memberikan motivasi kepada seluruh peserta keputrian dengan filosofi bola basketnya. Entah itu buatan beliau sendiri atau ia juga dapat dari seseorang yang super juga. Yang jelas filosofi itu sangat bermanfaat dan memotivasi peserta keputrian kemarin. Oke, jadi  apa itu filosofi bola basket?
Awalnya seluruh peserta bingung karna ka Pewski menyuruh kita untuk memejamkan mata dan menaruh tangan kita di depan dada dan membayangkan seolah kita sedang memegang bola basket. *mungkin kalian juga bisa coba setelah selesai membaca*. Kita pun terus disuruh memejamkan mata dan terus membayangkan bola basket tersebut, menikmati teksturnya yang bulat. Saat berada di tengah asiknya berimajinasi, ka Pewski menyuruh kita untuk memantulkan bola basket tersebut dengan pelan ke lantai. Kalian tahu apa yang terjadi? Seperti terhipnotis, seluruh peserta serempak melakukan itu. Dalam bayangan, bola tersebut memantul ke atas juga . Lalu kita menangkap bola itu dan memantulkannya lagi dengan lebih kencang dari sebelumnya dan bola itu pun memantul ke atas lebih tinggi lagi. Kita pun memantulkan kembali bola basket itu ke lantai dengan sekuat tenaga, mengeluarkan seluruh kemampuan dan tenaga kita. Lalu apa yang terjadi? Luar biasa, bola itu memantul sangat tinggi dan benar-benar tinggi. Setelah itu ka Pewski menyuruh kita untuk membuka mata dan menelaskan apa maksud dari permainan itu tadi.
Beliau bilang anggap pantulan bola basket yang ke lantai itu adalah sebuah masalah dan pantulan ke atasnya adalah hikmah dari masalah tersebut. Ketika kita memantulkan bola itu ke lantai dengan pelan, maka pantulan ke atasnya juga pelan. Tapi saat kita memantulkan bola basketnya dengan sekuat tenaga dan sangat kencang, maka pantulan ke atasnya menjadi sangat tinggi. Itu artinya ketika kita mendapatkan masalah yang sangat besar, ketika kita jatuh ke lembah yang begitu dalam, maka suatu hari nanti kita akan bangkit kembali dan malah berdiri di tempat yang lebih tinggi dari sebelum kita mendapatkan masalah. Masalah yang besar akan memberikan kita pelajaran yang sangat besar suatu hari nanti. Ya begitulah filosofi bola basket yang diberikan oleh ka Pewski. Setelah itu, raut wajah para peserta seperti bersemangat kembali. Dan saya pun mendapatkan pelajaran yang sangat berarti. Bahwa ketika Allah memberikan kita masalah yang begitu besar, janganlah marah janganlah putus asa. Tapi jalanilah masalah itu dengan sebaik mungkin, dengan sabar, dan dekati Allah selalu. Karna saya yakin setiap kali Allah memberikan masalah pada hambanya saat itu Allah akan memberikan kita hadiah dan nikmat yang begitu special. Bukankah Allah berfirman dalam Al-Quran di surah Al-Insyirah ayat 5 dan 6.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”
Allah telah memberitahu kita bahwa sesudah kesulitan ada kemudahan dan Allah mengulanginya sebanyak 2 kali dalam surah itu. maka berbahagialah ketika mendapatkan masalah, karna saat itu Allah sedang menyapa kita untuk lebih dekat denganNya.
“Muslim yang baik selalu sabar dan tabah saat menghadapi masalah. Muslim yang baik tidak pernah berputus asa karna ia punya Allah yang maha perkasa.”

Well, itu aja yang bisa aku share tentang filosofi bola basket. Alhamdulillah satu janji lunas, berarti tinggal yang cerita saat mewawancarai kedua pembicara yaaa. Saya lanjutkan lain waktu yaa, hehee :D
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Have a nice day and take care ^.^ J