Hari ini tepat pukul 12.04 WIB. Kami semua masyarakat di
belahan dunia baru saja sampai di awal tahun baru, 2015.
Malam ini aku sama sekali tidak tertarik untuk merayakannya
seperti biasa. Semua rencana yang ada dan matang disusun, aku biarkan terlewat begitu
saja. Ah, tidak ada hasrat untuk apapun malam itu. meskipun aku tahu di luar
sana banyak sekali perdebatan tentang perayaan tahun baru masehi ini, dan yang
kuyakini umat muslim tak sebaiknya merayakan itu secara berlebihan. Cukup
sederhana, karna toh tahun baru kami sudah lewat beberapa bulan yang lalu. Tapi
aku tidak mengelak, pada pergantian tahun masehi seperti ini, aku cukup
menikmati hampir setiap tahunnya. Karna ini salah satu waktu dimana aku bisa
memiliki waktu yang banyak untuk berkumpul dengan kedua orang tuaku dan
saudara-saudaraku. Kedua orang tuaku adalah wirausaha. Mereka sangat sibuk
setiap harinya. Pergi pagi pulang malam. Kami hanya memiliki waktu panjang
bersama dibeberapa moment saja,
selain perayaan hari besar umat islam, salah satunya ya ini, tahun baru. Makanya
aku biasa untuk menikmati waktu-waktu tersebut.
Tapi malam ini berbeda dari biasanya. Di malam pergantian
tahun 2014 menjadi 2015 ini aku sama sekali tidak ingin merayakannya. Hal itu
dikarenakan Indoneisa negeriku mengalami terlalu banyak duka di akhir tahun.
Indonesia mengalami banyak sekali bencana besar di penghujung tahun 2014. Kota
yang tak jauh dariku (Bandung) yang tak biasanya masuk televisi karna
kebanjiran, tahun ini mereka mengalami banjir yang sangat dahsyat, hampir 3 meter
tingginya. Ah hatiku sangat teriris bila melihat mereka di berita. Saudaraku
yang di aceh pun demikian. Dan Jakarta, sudah setiap tahunnya kami mengalami
banjir. Meskipun Alhamdulillah sudah hampir 6 tahun setelah aku pindah rumah
aku tak pernah lagi bertemu air banji. Tapi aku tahu bagaimana sedihnya saat
kita kebanjiran. Apalagi jika harus kehilangan anggota keluarga, karna aku
sendiri pernah mengalaminya. Selain banjir terjadi kebakaran besar terjadi di
Solo, kota yang pernah dipimpin oleh Bapak Presidenku sekarang ini. Ratusan toko
hancur terbakar. Meskipun korban jiwa hanya satu, tapi bagaimana dengan nasib
perekonomian mereka setelahnya? Bisa jadi toko itu adalah mata pencaharian
mereka satu-satunya. Ah, aku tak mampu membayangkannya. Semoga Allah lekas
menggantikan rumah mereka yang hangus dan hancur itu menjadi lebih bagus dengan
segera, agar mereka bisa tidur dengan nyenyak. Dilain wilayah, Allah menguji
saudara-saudaraku di Banjarnegara dengan tanah longsor. Lebih dari 100 rumah
beserta penghuninya tertimbun disana. Para tim sar dan relawanpun tidak bisa
menemukan semua korban. Semoga Allah senantiasa menerima jazad para jenazah
tersebut dan menerima amal ibadah almarhum serta menempatkan mereka di surga.
Meskipun sudah banyak bermunculan berita duka ini di
televisi, tapi tak sedikit pula iklan tentang acara perayaan tahun baru.
Konser-konser musik digelar dimana-mana. Hingga 4 hari sebelum berakhirnya
tahun ini, Allah kembali menurunkan bencana untuk Indonesia. Pesawat Air Asia kami jatuh dan menghilang di
laut Belitung. Berita yang sangat menggemparkan, bahkan sampai ke luar negeri.
Setelah itu, aku lihat di media social pesta tahun baru dengan konser musik
sedikit berkurang dan berubah menjadi acara doa berjamaah untuk para korban bencana.
Baik yang kebanjiran, tanah longsor, kebakaran, ataupun korban jatuhnya pesawat
Air Asia. Banyak yang mengubah jadwal
malam tahun barunya menjadi acara doa jamaah. Semoga Allah senantiasa mau
mendengar doa kami dan mengabulkan yang baik-baik.
Aku hanya ingin menghidupkan sedikit hati nuraniku dengan
berusaha untuk tidak menikmati dan tertawa kian bahagia di malam ini. Aku takut
jika aku tertawa begitu bahagianya, itu sama saja dengan tertawa di atas tangis
dan penderitaan saudara-saudaraku. Aku tahu aku tak bisa melakukan banyak untuk
mereka, makanya aku berusaha untuk diam merenung dan medoakan serta berusaha menjadi satu dengan mereka,
sehingga aku bisa mersakan empati.
Aku sengaja tidur lebih awal, pukul 9. Ini aku lakukan agar
aku bisa melewati malam ini tanpa tawa. Namun, saat pukul 11.10 malam di
tanggal 31 desember 2014 aku terbangun dari tidur lelapku. Suara dentuman
kembang api dan terompet sangat mengganggu tidurku. Aku sangat kesal. Aku pun
berusaha untuk memejamkan mata dan tidur kembali mengabaikan mereka yang sedang
tertawa bahagia tepat di depan rumahku. Berhasil, aku bisa tidur kembali.
Namun, sekitar 10 menit kemudian aku terbangunkan lagi. Semakin lama suaranya
semakin besar, benar-benar mengganggu pikirku. Aku tidak bisa tidur lagi. Aku
mengalihkan itu dengan membaca buku, tapi konsentrasiku terganggu karna terlalu
beriksik. Akhirnya aku memutuskan untuk menunggu sampai selesai. (Di tengah proses menunggu, aku menyampaikan
doa untuk diriku, keluargaku, tetangga, teman serta guruku, untuk para korba
bencana, untuk Indonesia, dan untuk saudaraku umat muslim dan seluruh manusia
di bumi ini. Aku beroda agar kami bisa menjadi manusia yang lebih berarti dan
bermanfaat di tahun berikutnya). Sialnya sudah hampir satu jam aku menunggu dan
ini belum berakhir. Tepat di pukul 12 malam, suaranya semakin menjadi-jadi.
Baik terompet, kembang api, ataupun tawa bahagia mereka. Samuanya semakin
membesar. Aku hanya berdoa semoga di tahun 2015 ini mereka bisa terus bahagia
seperti tadi setiap harinya. Tapi mendengar tawa mereka, hati ku sangat sakit.
Seolah mereka sedang mengejek diriku. Entah bagaimana bisa mereka tertawa kian
bahagia terbahak-bahak sedangkan ribuan sudaraku sedang dirundung duka mendalam
malam ini. Apakah mereka tak memikirkannya. Hatiku sangat sakit sekali
mendengar tawa itu yang tak berhenti malah kian pagi kian membesar.
Saat 10 menit menjelang pergantian tahun, karena kesal
menunggu, aku sempat berpikir untuk membuka pintu dan keluar. aku hanya ingin
melihat indahnya kembang api yang meledak-ledak itu namun berusaha untuk tidak
menikmatinya apalagi tertawa. Tapi aku mengurungkan niat itu. bodoh sekali,
bagaimana bisa kau tidak menikmatinya? aku tahu aku bukanlah orang baik, tapi
setidaknya aku ingin tetap memiliki hati dan menghidupkannya. Perasaan tak tega
itu kembali muncul, dan aku sangat kesal dengan orang-orang di luar yang
merayakan malam tahun baru ini dengan pesta. Akupun bangkit dari tidurku,
melepas kerudung serta rok yang aku kenakan saat tidur. Aku pergi ke kamar
adikku, untuk melihat apakah ia ada disana atau tidak. Ternyata ia masih tidur
pulas. Aku pergi ke bawah untuk buang air dan memastikan keadaan keluargaku,
dan mereka juga masih ada di kamarnya. Malam itu ibuku sedang kurang sehat,
mungkin itu penyebab ia dan ayahku tidak keluar untuk melihat pesta kembang api
di depan rumah. Aku bersyukur, setidaknya yang ku lihat dari luar malam ini adalah
keluargaku tidak tertawa terbahak-bahak di atas perderitaan para korban
bencana. Aku kembali ka atas dan membangunkan adikku. Aku ingat ia memintaku
untuk membangunkannya, ia ingin melihat kembang api. Sebenarnya malas sekali
melakukan itu, karna aku tidak ingin ia terlibat dengan pesta tahun baru. Tapi
aku sudah berjanji. Akupun membangunkannya dan mengingatkannya soal kembang
api, dan mengizinkannya melihat dari balkon atas. Tapi ia menolak lantaran
mengantuk, Alhamdulillah. Tepat pukul 12.04 saat aku menulis tulisan ini yang
entah bagaimana isinya aku tak peduli. Aku hanya mengeluarkan kekesalanku malam
ini. Tepat pukul 12.04 masih saja terdengar dentuman keras kembang api dari
luar, dan mereka yang di luar pun masih berpesta ria. Aku menulis ini diiringi
dengan rasa sakit hati meskipun suara kembang api dan tawa mereka yang
mengiringiku seolah tampak sedang menghibur. Bahkan sampai pukul satupun mereka
masih sangat berisik. Kapan aku bisa kembali tidur? Aku kesal!!!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar