Kamis, 23 Juli 2015

Menanti Dalam Diam




Aduh judulnya puitis sekali -_-
Hehe asslamu’alaikum teman-teman.
Ini malam apa ya? Mendadak lupa. Di tengah malam gini aku mau ngeblog, isinya sih emang mau curhat. Gak masalahkan? Entah apa yang terjadi denganku. Pas jam 9 malam tadi aku buka facebook buat lihat balasan chat dari teman. Setelah diingat-ingat akhir-akhir ini hanya dia satu-satunya orang yang berhubungan dengan ku lewat facebook (maksudnya ngechat) kemarin-kemarin sih ga ada masalah, semua baik-baik aja. Tapi tiba-tiba malam ini aku merasa ada seseorang yang aku harapkan bisa chat denganku. Ah harapan apa ini? Apakah mungkin harapan ini datang karena faktor 18 tahun itu? entahlah. Berkali-kali aku lihat daftar obrolan dan ternyata dia juga sedang buka facebook, saat itu aku berharap pelan sampai menjadi sebuah teriakan kalau aku ingin chat dengannya. Ya mungkin hanya sekedar menanyakan kabar tentang mau lanjut kemana setelah lulus? Diterima di perguruan tinggi mana? Atau lebih kearah pribadi yang saling  menanyakan kabar diri. Tapiiiii hasilnya nihil. Aku tahu ini agak mustahil. Dia gak mungkin membuat chat yang isinya percakapan tidak penting seperti itu. Namun meskipun aku tahu ini mustahil, aku tetap menantinya tanpa berani memulai duluan. Entah sampai kapan. Ya inilah mengapa judul postingan kali ini menanti dalam diam. Diam-diam aku menanti dia menyapaku… mungkinkan diam diam juga akuuuuuu……… lupakannnn!!!


Alhamdulillah kado ultah yang ke 18 ada juga :)




Tepat tanggal 5 Juli kemarin usiaku bertambah menjadi 18 tahun di dunia ini. Alhamdulillah masih sehat-sehat aja, dan insyaAllah akan selalu sehat.
Biasanya nih ya kalo orang ulang tahun pasti mereka selalu dapat hadiah. Emang sih ya yang namanya ulang tahun tuh selalu berhubungan sama hadiah lah, pesta lah, kue lah, muhasabah lah, doa lah, dan masih banyak lagi. Begitupun dengan ultahku tahun ini. Yaaa meskipun ga ada kado, kue apalagi pesta, hehee tapi Alhamdulillah masih banyak doa dari keluarga, teman, dan orang terdekat lainnya. Wehehe ini bukan berarti kode mau minta hadiah yaaaa, tapi kalo ada yang mau ngasih juga Alhamdulillah aku terima dengan senang hati asalkan hadiahnya yang bagus dan masuk akal ya *nawar.
Tapi tahun ini aku masih dapetlah satu hadiah yang emang udah lama juga ditunggu-tunggu. What is that? *engingeng* Alhamdulillah aku lolos tes seleksi masuk Sekolah Tinggi Umar Usman. *yeay!!*

Tahun ini aku memang baru lulus SMA. Sama seperti teman seangkatan lainnya yang pasti punya perguruan tinggi impian dan berharap bisa kuliah disana. Begitupun dengan aku, kampus Umar Usman menjadi kampus impian setelah pengumuman tidak lolosnya aku snmptn. Loh kok setelah snmptn? Berarti pelarian dong? Ya banyak si yang ngira begitu, dibilang putus asa lah karna ga lolos snmptn dan takut buat nyoba sbmptn, tapi itu semua SALAH BESAR!! Kan tadi udah dibilang kampus umar usman adalah kampus impian aku murni tanpa paksaan dari siapapun. Gimana ceritanya? panjanglah, males buat ngetik ._.v
(sekedar info tambahan: Sekolah Tinggi Umar Usman adalah kampus yang baru ada sekitar 3 tahun, dan aku masuk di angkatan ke-3. Belajar di kampus ini hanya satu tahun. Loh kampus macam apa itu? ini kampusnya para pengusaha dan calon pengusaha mas/mbak. Intinya menurut aku kalau kalian bercita-cita mau jadi entrepreneur, ya sekolah ini bisa dijadikan salah satu referensi.)

Pas tanggal 2 Juli kemarin aku datang seorang diri ke kampus Umar Usman yang ada di Pasar Minggu, JakSel buat ikut tes seleksinya. Tesnya gak seribet sbmptn atau sejenisnya. Cuma ada 2 tes disini tes psikotes dan wawancara ditambah tes baca alquran, keren kan? Pas di psikotes menurutku hasilnya sih buat ngeliat tentang kepribadian kita seperti apa. Nah pas di wawancara ini yang bikin degdegan, takut salah ngomong eh nantinya malah jadi fatal. Tapi Alhamdulillah semua lancar J. Pas wawancara kita diminta buat menceritakan semua aktivitas kita sehari-hari, tentang keluarga, dan paling banyak sih tentang rencana bisnis kita kedepan.
Pas lihat teman-teman yang ikut seleksi, jujur agak minder. Soalnya ngeliat tampang mereka, mereka kelihatan serius dan antusias banget. Sedangkan aku? Huhuu masuk dalam jajaran anak bawang dan nyatanya emang masih kayak anak kecil, gak ada tampang serius dan apalagi meyakinkan.  Oiya kenapa anak tadi dibilang masuk jajaran anak bawang? Soalnya yang kuliah disini gak semuanya fresh graduate dari SMA, disini ada ibu-ibu, mbak-mbak, dan mas-mas juga. Saingannya semacam itu, berat juga kan? Pengalaman mereka lebih banyak. *Oke disini aku hanya bisa berdoa dan pasrah.*


Tapi hasilnyaaaaa Alhamdulillah diumumkan sehari setelah hari ulang tahunku (tanggal 6 Juli) ada sms masuk  kalau hasil tesnya sudah dikirim lewat email *waduh degdegan banget nih* pas buka email yang sebelumnya baca bismillah berkali-kali dulu biar tenang dan kalo emang ternyata gak lolos aku sudah bisa menerimanya. Pas dibuka gak tahunya Alhamdulillah aku lolos. Senengnya bukan main bisa masuk di kampus impian. Dan saat itu aku proklamirkan, bahwa kelulusanku ini sebagai hadiah ulang tahun terbesar tahun ini *prokprokprok* Untuk kedepannya aku berharap kuliah setahunku bisa lancar disini, bisa belajar bisnis lebih dalam lagi, dan bisa bersaing serta beradaptasi dengan cepat dengan para ibu-ibu/orang yang sudah berumur disana. Hehe ._.v

Minggu, 05 Juli 2015

HAPPY BIRTHDAY INDRI YANG KE-18 ^^



Alhamdulillah, just that word which I can say now, thank for everything that you have given to me ya Allah. July 5th 2015. Yup today it’s mybirthday. I’m in 18th now.

Kira-kira di usia 18 tahun itu biasanya ngapain sih? Well, I’m still confuse. Yang gua tahu sekarang gua sudah memasuki tahap dewasa. Seneng? Sebenernya sih biasa aja, malah jawaban jujurnya engga.

Entah kenapa di ultah gua ini, gua gak ngerasa special atau yang terlalu seneng kayak tahun-tahun sebelumnya. Mungkin karena faktor sudah memasuki usia dewasa kali ya? Entahlah. Yang jelas, di ultah gua ini gua malah ngerasa takut akan 3 hal yang akan/ telah terjadi dalam hidup gua. 3 hal itu adalah:

Ketakutan yang pertama.
Selama hidup dalam kurun waktu 6.570 hari gua ngerasa banyak banget waktu yang udah gua buang sia-sia. Gua tahu tentang betapa pentingnya waktu dan apa akibatnya kalau membuang waktu sembarangan, tapi gua belum paham karena buktinya sampai sekarang gua belum bisa menjalankannya dengan baik. Betapa bodohnya manusia…
Dalam waktu 6.570 hari udah banyak banget dosa yang gua perbuat dan hanya sedikit tobat sama Allah. Gua takut, karena gua gak pernah tahu kapan waktu gua untuk pulang bakal tiba, yang jelas waktu itu semakin dekat. Dan masih banyak banget dosa yang gua perbuat sampai sekarang. Ah, sungguh manusia itu benar-benar lalai.

Ketakutan yang kedua.
Mengingat usia gua yang udah memasuki usia 18 tahun, gua takut ngeliat kebelakang. Kenapa? Karena gua ngerasa seperti orang payah, benar-benar payah. Hah, diusia segini gua belum bisa membuat sesuatu yang bikin orang sekitar gua senang, gua masih menyusahkan banyak orang, gua belum bisa bikin sebuah prestasi. Lihatkan betapa payahnya gua? padahal waktu 18 tahun itu waktu yang lama banget. Gak jarang gua suka iri ngeliat anak-anak yang usianya lebih muda/ mungkin sama kayak gua tapi mereka udah bisa jadi bintang, udah bisa banggain banyak orang. Sedangkan gua? ah, aku hanya sebutir debu~ fuhfuh.

Kenapa bisa begini? Gua baru sadar ini berkaitan dengan point ketakutan yang pertama. Betapa banyak waktu yang berguna itu gua buang sia-sia, sering banget waktu-waktu itu gua gunakan untuk bermaksiat. Alhasil baru di usia 18 tahun aja, gua udah bisa merasakan betapa payahnya gua.

Ketakutan yang ketiga.
18 tahun adalah usia awal memasuki masa dewasa. Manusia hidup melalui banyak tahap, mulai dari bayi, anak kecil, abg, dewasa, dan tua. Gua sudah memasuki gerbang kedewasaan sekarang. Seperti yang gua lihat selama ini, hidup orang dewasa itu sulit, tidak semenyenangkan kehidupan para anak kecil. Banyak banget masalah yang akan datang ketika kita dewasa, masalah ekonomi, social, dan lainnya. Jujur, gua takut menjadi dewasa. Gua ngerasa belum siap untuk menghadapi masalah-masalah itu. sampai saat ini gua masih suka bergantung sama orangtua, padahal seharusnya dari dulu gua sadar mereka gak selamanya akan terus-terusan bareng gua. kita akan berpisah. Jika aja gua udah sadar tentang hal itu dari dulu, mungkin gua gak akan setakut ini untuk menjadi dewasa. Hidup gua masih kayak anak kecil, karena gua selalu ingin menjadi anak kecil terus dengan kehidupan yang bebas tanpa beban, hanya ada kebahagiaan di diri mereka. Tapi sekarang gua tahu itu mustahil, waktu tak akan pernah kembali.


Semua ketakutan gua saling berkaitan satu sama lain. Dan masalah utamanya adalah di point satu. Seandainya saja gua adalah manusia yang penuh rasa syukur sehingga selalu memanfaatkan waktu dengan baik, belajar banyak hal, tidak banyak bermain dan bermaksiat mungkin di usia gua yang 18 tahun ini gua udah mencetak banyak prestasi, berhasil membanggakan banyak orang, sehingga gua siap untuk memasuki tahap dewasa. Ah, berandai-andai itu memang menyenangkan, namun itu tetap saja hanya sebuah andaian.


Di ultah yang ke 18 ini gua hanya berdoa semoga Allah memberi gua kesehatan dan membantu gua untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi, lebih bisa memanfaatkan waktu. Dan semoga Allah mengampuni segala dosa dan kekhilafan gua selama 18 tahun ini. Aamiin L

Sabtu, 04 Juli 2015

Ketika kita putus asa, ingatlah kembali apa tujuan kita




Wew, haha judulnya berat banget, udah kayak motivator aja. Hehee ._.v

Assalamu’alaikum.. lama tak berkunjung kesini, maaf kan aku blog yang terlalu sibuk dengan duniaku sendiri (peluk kangen sama blog)

Melihat judulnya, sebenarnya apa sih yang pengen gua tulis? Entahlah ini penting atau engga. I just wanna share my experience to you blog. Oke, ini adalah cerita nyata gua yang gua pikir saat itu gua beruntung. Ini terjadi pada tanggal 20 Juni kemarin. Hari itu, gua ikut sebuah seminar tentang hypnowriting di Universitas Islam Negeri Jakarta yang ada di Ciputat. Kenapa gua bisa tertarik buat ikutan? Ya, karena gua tertarik aja sama posternya yang gua liat seminggu sebelum acara melalui facebook sang pembicara yaitu Mbak Rindu Ade. Btw, do you know her? She’s the writer of novel Perempuan Pencari Tuhan. Bukunya sudah ada 3 edisi, keren kan? Oke, balik ke topic. Saat itu di posternya gua lihat tulisan begini “Pernah baca tulisan di online shop yang awalnya gak pengen beli jadi pengen beli? nah itu hanya bisa terjadi karena kekuatan aksara, karena kekuatan tulisan” ada tulisan online shop, gak pengen beli tiba-tiba pengen beli. Teruntuk gua yang memiliki hasrat dalam berjualan, jujur saja ini menggiurkan. Ya gua pikir kalo nanti gua punya sebuah produk sendiri *aamiin* gua bisa mempromosikannya dengan kalimat atau tulisan yang menarik, gak salahkan perkiraan gua? Seperti biasa gua yang grasak-grusuk orangnya, langsung heboh sms-in banyak temen gua buat diajak kesini. Tapi hasilnyaaaa tak ada satupun yang minat (saat itu gua tahu gimana rasanya hidup seorang diri. *ini bercanda) yaa, untung selain sukanya grasak-grusuk gua termasuk orang yang pantang menyerah kalo pengen dapetin sesuatu. Ya karena gua udah yakin banget mau ikut tuh seminar, gua pikir pergi sendirian pun tak masalah. Toh Ciputat itu tetangganya Jakarta kan? Deketlah. Jujur ini adalah pertama kalinya gua naik busway sejauh itu sendiri-_- sebenernya gua takut juga, takut nyasarlah, takut copet lah, apa lagi gua bener-bener murni gak tau jalan sama sekali. Saat itu bekal gua cuma dua, yaitu tekat buat ikut seminar dan tujuan gua UIN. Oke, bekal yang cukuplah ya, cukup cukup.

Hari H (20 Juni) pun datang. Dengan keberanian gua bener-bener putusin buat berangkat. Acara mulai jam 3, setelah gua itung-itung perjalanan bisa makan waktu sekitar 2-3 jam (deket sih, tapi ini Jakarta bro) akhirnya dengan bismillah dan kedua bekal gua itu, jam 1 siang gua berangkat dari rumah. Saat sampai di halte busway gua cuma bisa planga-plongo. What should I do there? Gua bingung sempet mikir apa pulang aja kali ya. Siang hari dan bulan pusa juga tidur enak banget tuh, ngapain juga gua ribet-ribet pergi untuk sesuatu yang belum jelas, sendiri pula -____- rayuan setan terus berdatangan. Setelah pikir-pikir lagi, gua gak mau berhenti di tengah jalan, ya sekalian gua belajar mandiri lah gak selalu bergantung sama orang lain. Jurusan gua adalah lebak bulus. Oke dengan sotoy tanpa nanya ke siapapun gua langsung naik busway ke arah grogol. Gua pernah ke pasar minggu naik busway dan rutenya gitu, dari rawa buaya ke grogol terus nyebrang jembatan (transit halte) abis itu ke kuningan, transit lagi ke pasar minggu. Ya dengan sok taunya gua pikir jurusannya pasti sama padahal udah jelas beda antara pasar minggu dengan lebak bulus, betapa bodohnya guaaaa . Gua pun naik busway ke arah grogol, karena mikir rutenya pasti sama. Dengan pedenya lagi gua main nyebrang jembatan aja tuh, beneran itu jembatan panjang banget untuk ukuran orang yang lagi puasa di siang hari. Pas sampe di halte satunya, gua mulai bingung lagi karena gak ada arah yang ke lebak bulus, akhirnya gua pun bertanya sama bapak petugas disana dan do you know what happened with me? Ternyata gua salah!! Ah, ini akibatnya sok tau dan gak mau nanya. Ternyata gua gak perlu ke grogol dan nyebrang jembatan kayak gitu, gua cuma tinggal turun di halte indosiar dan transit disana ke arah lebak bulus (disini gua baru tau halte ternyata indosiar bisa untuk transit). Gua gondok karena sebelumnya gua lewatin tu halte. Dengan terpaksa gua balik lagi naik jembatan, dan untuk yang kedua ini, gua ngerasa tuh jembatan panjangnya nambah jadi 3 kali lipat. Gua pegel woy. Tapi itulah gua gak pantang menyerah *disini gua merasa keren* sesampainya di halte awal, subhanallah jurusan lebak bulus antriannya kayak mau ambil sembako -___-. Waktu itu udah jam 2. Apa iya gua bisa sampe dalam waktu satu jam ke lebak bulus? Mustahil!! Mulai kepikiran lagi tuh pulang gak ya-pulang gak ya-pulang gak ya? Ah gua gegana. Tapi tetap pada pendirian, gua terus jalan. Satu tujuan gua yaitu lebak bulus!! *iket kepala pake tali rapia*

Sampe juga di halte indosiar, dalem hati gua mikir ini sih halte yang tadi gua lewatin *sabar-sabar* busway jurusan lebak bulus pun datang dan it’s really full -__- okey gua berdiri gak masalah, gua kan strong *kibas kerudung*. Perjalanan awal anteng-anteng aja, nemuin macet di awal juga masih anteng. Pas setengah jam perjalanan gua mulai kepanasan. Waduuh kaki gua pegel banget berdiri. Tapi it’s okey emang gua belum kebagian tempat duduk. nah, disini ada satu kejadian yang bikin gua keki. Ada orang baru dateng, terus dia langsung dapet tempat duduk karena ada mbak baik yang pastinya lebih sabar dari gua. Mbak itu ngalah ngasih tempat duduknya sama ibu muda (umurnya sekitar 30 th bisa jadi kurang) karena mungkin tuh ibu bawa anak kecil, jadi kasian. Well, itu gak masalah buat gua. tapi lama-lama gua mikir tu ibu muda bener-bener nyebelin udah di kasih tempat langsung duduk anteng dan gak lama lagi tertidur pules sampe ngambil dua tempat buat dia dan anaknya satu bangku lagi buat tentengan dia -___- itu tentengan kenapa gak ditaro di bawah aja sih? Masih banyak orang yang berdiri, gua yakin bukan cuma gua aja yang sebel disitu, tapi banyak ibu-ibu yang juga sebel ngeliatnya. Jalanan macet, jam setengah 3, jam tiga, jam setengah empat (gua telat, gpp setengah jam, insyaAllah bentar lagi yampe). Selama hampir 2 jam di dalam busway Karena macet da gua masih berdiri, gua dapet tempat duduk pas sekitar 3 halte lagi gua turun. Ah betapa teganya, kaki gua bener-bener pegel klimaks. Jam empat gua sampe di halte lebak bulus destinasi terakhir busway karena emang itu perbatasan antara JakSel sama TangSel. Setelah keluar dari halte, gua cari-cari angkot. Menurut info yang gua search selama di dalam busway tadi untuk menuju UIN gua bisa niak angkot D01/D02 karena mereka ke arah Ciputat. Gua naik angkot yang ada pas di depan halte, karena gua gak mau jalan lagi. Ini yang bikin gua bete lagi, nih angkot udah penuh gak mau jalan-jalan. Sekitar 20menit gua sama penumpang lainnya nunggu tuh angkot jalan. Untung aja belum ampe lumutan. Setelah sekitar 20 menit, angkotpun jalan. Gua yang polos bener-bener gak tau daerah itu cuma bisa clangak-clinguk kebingungan liatin jalan, sebenernya nyari gerbang UIN. Setiap ada penumpang muda naik (kalo cewek pake kerudung) gua selalu ngeliatin mereka dalem hati berharap mereka turun di UIN jadi gua ada barengannya. Udah jam setengah 5 tapi kok gerbang UIN belum keliatan juga ya? Disini gua mulai ketakutan jangan-jangan gua salah jalan lagi. Aduh gua bener-bener sendirian nich -___-. Whatever, insyaAllah gua bener kok. Gak lama gua ngelaiat gerbang UIN, hampir aja kelewatan. Langsung aja gua teriak ke abang supir minta berhenti, yang ini memalukan. Dan sekarang antara gua dan gerbang UIN hanya dibatasi oleh sebuah jalan besar yang gak pernah sepi *katanya*. Berhubung gua belum solat asar gua putusin buat solat dulu (di belakang gua ada masjid gede, jadi belum sempet nyebrang buat masuk UIN) pas selesai solat gua mikir apa yang sebenernya gua lakuin disini? Di ciputat, tempat yang belum pernah gua datengin, sendirian pula. Mau ikut seminarpun pasti udah ketinggalan jauh, udah jam 4.45 saat itu. tapi kalo gua gak ikut seminar semua perjalanan 3 jam itu sia-sia dong.  Masa jauh-jauh dari Cengkarang ke Ciputat cuma buat solat asar. Sebenernya gua punya beberapa kenalan dan juga kakak kelas yang kuliah di UIN, tapi semenjak turun dari angkot gak ada satupun kenalan gua yang gua liat. Karena bingung, gua sms panitia seminarnya apa gua masih boleh ikut seminarnya? Dan ternyata masih bisa. Langsung deh gua jalan menuju gerbang UIN. Tapi jalan besarnya pada saat itu lagi gak tenang, banyak kendaraan lewat, yaa gua kan takut nyebrang. Bingung -_-. Clingak clinguk cari temen buat nyebrang, sayangnya gak ada orang satupun yang nyebrang. Karena gua gak tau daerah situ jadi gua kira kita emang gak boleh nyebrang sembarangan disitu. Bingun lagi -_-. Tiba-tiba gua liat ada jembatan penyebrangan tapi itu jauh, yakali cuma buat nyebrang ke depan aja gua mesti muter sejauh itu. ah daripada kelamaan, oke gua lewat jembatan penyebrangan, guapikir taat aturanlah kan gak boleh nyebrang sembarangan J. Ini beneran tuh jembatan horor banget, tiap sisinya ditutupin sama spanduk jadi di dalemnya gelap, mana cuma ada gua seorang diri di jembatan itu, gua langsung neting aja takut ada penodong di ujung jembatan, tapi insyaAllah enggalah. Sepanjang jalan dia atas jembatannya gua gak berenti komat-kamit memohon perlindungan Allah, haha parahkan naik jembatan penyebrangan aja udah kayak lewatin kuburan. Ah, Alhamdulillah sampe juga di seberang jalan J dan yang bikin gua gondok, pas udah turun dari jembatan penyebrangan gua ngeliat banyak orang berseliweran pada nyebrang jalan besar seenaknya -_________- kenapa tadi pas gua tunggu-tunggu gak ada yang nyebrang satupun? Oke mungkin Allah mau ngejaga gua dengan ngarahin gua buat nyebrang lewat jalur yang aman. Pas sampe di depan gerbang, gua bingung harus ke mana, tujuan gua adalah student centernya UIN, guapun nanya sama Pak satpam disitu, Pak satpam bilang lurus aja, nanti yang ada parkiran mobil belok kanan itu student centernya. Oke gua melaksanakan seperti yang diarahkan pak satpam. But, udah muter-muter daerah situ tetep gua gak nemu tempatnya. Saat itu gua kurang beruntung Karena disana sepi gak ada orang yang bisa ditanya. Gaupun terus jalan sampe keujung dan Alhamdulillah ketemu juga, ini pun karena gua ngeliat spanduknya kalo enggak mungkin gua masih muter-muter disana. Jam menunjukan pukul 5.15 sekitar 45 menit lagi acara selesai. Jujur saat itu gua ngerasa malu sebagai orang telat, ini bener-bener telat maksimal. Tapi gua nekat masuk dan buka pintunya, Alhamdulillah gak ada yang nengok ke arah gua, hehe aman. Dateng ke meja pendaftaran udah ada nama gua disitu, tapi belum bayar Karena gua emang gak transfer, wkwk. HTMnya 50rb yaudah gua keluarin deh selembar uang yang warna biru, eh mungkin Karena si panitianya kasian sama gua, haha (Cuma di Indonesia *mungkin* orang telat dikasianin ._.v) guapun dapet setengah harga dan cuma bayar 25 rb, Alhamdulillah. Gua langsung duduk paling belakang biar gak mencolok telatnya, hehe. Dan ternyata udah masuk sesi tanya jawab yang bahkan pertanyaannyapun gua gak tau apa. Pas gua sampe Mbak Rindu undah ngejawab aja. Sia-sia? Enggak. Disisa waktu 20 menit itu gua gunain dengan baik, gua perhatiin jawaban yang dikasih Mbak Rindu *meskipun gaktau juga apa pertanyaannya*. Gua catet apa yang gua denger dari beliau, karena gua gak mau perjalanan gua menuju sini yang dari jam 1 siang itu sia-sia. Apa yang gua dapet? Gak banyak Cuma satu yang bener-bener nempel. Satu? Yoi, satu dan gua rasa itu kuncinya menulis. Saat itu Mbak Rindu bilang “kalau kita mau nulis, ya nulis aja. Apapun yang ada dipikiran kita ya tulis aja, gak usah mikir bagaimana rumus menulis yang baik supaya buku kita bisa jadi bestseller. Rumusnya ya itu nulis aja. Menulis untuk diri kita sendiri, bukan untuk orang lain. Menulis untuk memotivasi diri sendiri, bukan untuk orang lain. Menulis untuk kesenangan, kepuasan, dan pelampiasan emosi diri kita sendiri. Itu cukup. Kalaupun nantinya gak ada yang baca, setidaknya kita yang paling setia membaca tulisan kita. jadi nulis aja, gak usah mikir gimana kalimatnya apalagi repot-repot mengedit biar jadi bagus atau terkesan puitis, tugas kita sebagai penulis adalah menulis kalau yang mengedit yang si pengedit.” Simple. Ya simple, apa yang gua dapet cuma sesimpel itu. sebenernya tujuan gua kesini bukan untuk itu, gua mau ngedengerin isi seminarnya tentang hypnowriting supaya gua bisa mempromosikan barang dagangan gua kelak. Apa yang gua mau gak gua dapetin hari itu. seminar selesai dan masih ada waktu sekitar 20 menit menuju magrib, Karen ada agenda buka bersama setelah ini. Di waktu 20 menit terakhir, panitia memberikan tantangan kepada para pesertanya untuk membuat tulisan singkat temanya tentang ‘rindu kepada Rasulullah’ hadiahnya adalah bukunya Mbak Rindu yang berjudul Perempuan Pencari Tuhan jilid 3 plus tanda tangan dan foto bareng beliau. Ah gua pesimis malah sempet mikir buat gak ikutan tantangan itu. Gua pasti kalahlah, gua baru dateng dan ga tau apa-apa, sedangkan peserta yang lain mereka pasti udah dapet ilmu dari seminar itu jadi ya gampang aja buat bikin tulisan sederhana. Haha karena gua duduk di paling belakang dan dikeliligi banyak panitia, otomatis kalo gak ikutan bakal ketauan banget. Oke, gau ikutan, cuma sekedar ikutan. Pas mau nulis gua bingung apa yang harus gua tulis, karena gua sendiri gak tau banyak tentang Rasulullah. Tapi tiba-tiba gua inget kalimat Mba Rindu, nulis aja gak usah mikirin yang lain. Alhasil gua nulis aja, gak mikir menang atau apapun, sebodo amat tulisannya jelek. Tapi saat itu gua mencoba untuk jujur saat menulis, gak mau membesar-besarkan biar tulisannya terlihat bagus. Gua jujur aja kalo gua gak tau banyak tentang Rasulullah ditulisan itu. selesai, dikumpulkan. Pas MC lagi ngoceh-ngoceh, gua asik mainan facebook sampai tiba-tiba nama gua dipanggil. Gua kira ada apa sampe nama gua bisa disebut, ternyataaaaa ahay tulisan gua yang dipilih Mbak Rindu sebagai pemenang. Sempet bingung juga kenapa bisa, tapi Alhamdulillah deh akhirnya bisa dapetin bukunya juga :D. dengan malu-malu tapi mau gua maju ke depan, pas sampe di depan Mbak Rindu bilang gini “selamat ya, meskipun tadi dateng paling telat tapi bisa menang, semoga bisa jadi yang pertama dalam nerbitin buku” hehee kebongkar deh kalo gua dateng telat-___-. Sesi foto bareng Mba Rindu selesai dan gua balik ke tempat duduk. ternyata nama gua dipanggil lagi, hari itu gua dapet doorprize juga. Ah, nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan. Ada empat doorprize untuk 3 penanya dan satu lagi untuk gua sang pemenang, wkwk. Hari itu gua dapet dua hadiah dan heheee berhasil bikin iri banyak peserta Karena ternyata banyak juga yang mau dapetin bukunya Mabk Rindu itu. disini gua baru ngerasain rasanya jadi seorang pemenang. *maaf ya kalo terkesan sombong*

Saat magrib hampir tiba, para panitia sibuk membagikan makanan ke peserta seminar, gak taunya kita dapet nasi padang. Haha saat itu gua ngerasa gak enak sama panitianya karena cuma bayar 25rb, tapi panitianyakan yang minta insyaAllah ikhlas lah ya ._.v


Selesai solat magrib dan makan, gua pulang. Sendiri lagi, it’s okey aku strong kok:3. saat di perjalanan gua mikir, gua emang gak dapet apa yang gua mau (ilmu tentang hypnowriting) tapi Allah ngeganti dengan yang lain (potongan harga, buku gratis, nasi padang murah, foto bareng Mak Rindu, doorpeize, dan yang penting gua belajar mandiri hari itu). Padahal awalnya gua sempet putus asa dan milih balik aja. Sempet juga nyalahin Allah karena gak ngasih perjalanan yang mulus, padahalkan niat gua buat nuntut ilmu. Tapi gua salah Allah ngasih yang lain yang lebih menarik, Alhamdulillah.

Sebenernya ini curhatan gua, melalui curhatan ini gua cuma mau sampein ketika kita punya keinginan/tujuan untuk mendapatkan sesuatu dan tiba-tiba di tengah jalan rasa putus asa datang karena ternyata sangat sulit untuk mendapatkannya, jangan berhenti!! inget lagi tentang tujuan kita yang bisa memotivasi kita. Dan tengok lagi ke belakang, lihat sudah seberapa jauh kita berangkat. Apa iya kita ikhlas untuk berhenti padahal sudah di tengah jalan? Kalaupun apa yang kita inginkan tidak bisa kita dapatkan, Allah akan menggantinya dengan yang sama baiknya atau mungkin lebih baik. Dan berbaik sangka lah pada Allah *jangan kayak gua yang udah suudzon (semoga Allah mengampuni ku)

*maaf kalo di tulisan ini bahasanya tidak baik, karena saya lebih nyaman menulis dengan bahasa sehari-hari jadi terkesan seperti sedang curhat dengan temanJ
*terimakasih sudah membaca semoga ada manfaatnyaJ
Wassalamu’alaikum… ^^